Penjajahan, Berkah atau Kutukankah?
Jumat, 24 Agustus 2012
Frank-Alamanni dengan legiun - kavaleri Romawi saling memandang berhadap-hadapan dalam pertempuran Strasbourg. Kepulan debu beterbangan menyakitkan di mata dan mereka saling menahan napas. Ketegangan menyelimuti dalam menunggu komando selanjutnya.
Hari itu nasib dua kelompok bangsa besar akan ditentukan apakah sang elang Romawi mampu melanjutkan program kolonialisasi demi kolonialisasinya atau sang bangsa di depan mata yang lainnya yang mampu bertahan dan membinasakan musuhnya dalam perang besar ini. Pada akhir waktu dapat terlihat bahwa ketimpangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berbicara. Republik Romawi yang terstruktur militernya, ada hirarki yang jelas, punya “fabricae” pabrik alat-alat perang milik negara, punya akademi-akademi militer, kesejahteraan prajurit melebihi kesejahteraan prajurit Amerika di perang dunia 1, kenyang asam garam untuk menjajah mempecundangi mereka yang tertinggal dan proses kolonialisasi pun dimulai.
Proses itu kembali diulangi ketika setengah milenium kemudian Belanda, negeri kecil di bawah laut yang dimitoskan oleh si kolonial luasnya melebihi Indonesia, menaklukan negeri-negeri Nusantara yang beratus-ratus jumlahnya. Realistis bahwa peluru tidak mungkin dikalahkan oleh keris-keris empu walau dimitoskan keris-keris itu dapat terbang sendiri, meriam-meriam yang lajunya tak dapat tertahankan oleh barisan tameng walau katanya dirapal mantra kyai dari arab, dan negeri-negeri nusantara itu bukanlah Indonesia. Mereka itu sekumpulan negeri yang saling berperang bahkan ada dalam satu negeri yang berperang secara internal dan barbar. Anak membunuh bapak, saudara membunuh kepada saudaranya, ibu diperistri anaknya demi jabatan penguasa Raja. Nusantara Jatuh tapi lalu bangkit. Ekonominya bangkit karena sumber daya mampu dimanfaatkan dengan baik oleh sang kolonialis . Stabilitas politiknya luar biasa jika dibandingkan sebelum dijajah, satu penguasa yaitu Gubermen, Gubernur Jenderal yang dipilih oleh negeri bunga tulip itu. Perang-perang saudara dan pemberontakan yang dapat ditekan karena superiornya militer kolonial jelas membuat stabilitas keamanan meningkat signifikan. Belanda memasukan kopi, tebu, cengkeh, dan sebagainya yang belum dikenal sebelumnya pada tanah subur Indonesia. Ilmu pengetahuan Eropa memberikan berkahnya pada negeri jajahan. Nusantara mengalami lompatan sipil jauh ke depan dari yang seharusnya karena dijajah.
Cost yang dikeluarkan Belanda dalam menjajah Indonesia tidaklah kecil. Berapa nyawa sudah melayang karena hal ini, berapa gulden yang sudah diinvestasikan. Dikisahkan bahwa dalam masa pencarian “dunia baru” ini, seorang pelaut hidup dalam ketidakpastian. Jarak yang tidak menentu, keuntungan yang belum jelas, rindu keluarga di rumah, bahaya menanti di tempat tujuan dan memang akhirnya bahaya-bahaya di atas tadi benar-benar terjadi. Pelayaran bertahun-tahun tanpa hasil menemukan si “dunia baru”, hidup dalam dek-dek kapal kotor minim makanan bertahun-tahun. Badan mulai mengurus, ada yang kakinya membusuk, gusi, gigi-gigi mulai berdarah, teman satu persatu mati dan terpaksa dijadikan makanan sendiri. Dan......., keajaiban itu datang....spicy Islands ditemukan, pulau rempah-rempah menganga di depan mata sebagai ganjaran kerja keras berdarah-darah bangsa oranje.
Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa Belanda mengubah negeri yang semi barbar ini mendekati sebuah nation pada abad tersebut. Belanda kehilangan banyak gulden dan nyawa, Nusantara kehilangan harga dirinya. Apakah ada yang lebih berharga daripada harga diri?. Dalam masalah hukum, rakyat Nusantara selalu menjadi kelas ketiga setelah bangsa-bangsa Eropa dan bangsa timur jauh. Hukum sebagai penguasa tertinggi pun mendiskriminasikan mereka. Dalam hal pendidikan, jangan harapkan pendidikan bermutu jikalau bukan keturunan ningrat. Tampaknya Belanda belajar betul dari pengalaman Spanyol ketika menjajah Flipina, rakyat Filipina memberontak dipimpin golongan intelektual mereka. dr Jose rizal dan kawan-kawannya membentuk organisaasi bernama Katipunan yang terstruktur dan rapi. Kalau ingin jujur, ini akibat Spanyol memberikan pendidikan Eropa yang jauh ketinggiannya kepada orang Filipina. Spanyol terusir....iya Spanyol terusir dan Filipina menjadi suatu Nation pertama di Asia Tenggara di tahun 1800an. Bayangkan....negara terjajah yang dianggap bangsa barbar oleh penjajahnya punya Presiden sendiri! Pendidikan itu luar biasa kekuatannya. Meski pada akhirnya akibat sandiwara perang antara Spanyol dan Amerika Serikat negara ini jatuh dalam cengkeraman Amerika. Kembali pada Indonesia, kalo diperbandingkan dengan Indonesia dengan Filipina ada yang menarik. Vlekke dalam Bukunya “Nusantara” berkata adalah kesalahan fatal Belanda enggan membangun perguruan-perguruan tinggi di Indonesia. Akibat politik etis, golongan terpelajar yang tidak buta huruf dari orang pribumi jumlahnya melebihi orang yang tidak buta huruf dari orang Belanda sendiri. Tentu saja dari golongan ini ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan perguruan tinggi ini tidak ada di Indonesia. Solusinya lantas monarki Belanda pun menjadi tujuan mereka. Di belanda mereka belajar tentng apa itu “Nation”, karena dekat dengan Prancis mereka belajar pula tentang revolusi Prancis,juga ajaran J.J Rosseau tentang persamaan, persaudaraan, dan kebebasan, singkatnya mereka melihat Eropa secara keseluruhan. Munculah golongan yang menjadi duri dalam daging kolonial, golongan nasionalis. Jangan lupakan pula tanam paksa dan Rodi. Vlekke menuliskan, kolonial menganggap bangsa Nusantara terlalu malas dan boros, lalu mereka tidak punya cukup uang untuk membayar pajak.Sebagai ganti membayar pajak, solusi logisnya adalah tanam paksa sehingga mereka tidak mengeluarkan uang dan penyakit malasnya teatasi. Namun,Tanam paksa menyeleweng dan perbudakanlah bisa dikatakan yang terjadi. Jangan lupakan pula pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Dalam rangka menghadapi Inggris yang ssemakin dekat, dibangunlah jalan itu untuk meningkatkan mobilisasi pasukan. Karena keadaan darurat menurut hemat saya segala cara akan dihalalkan. Jalan itu selesai tetapi jumlah korban-korbannya mencengangkan. Perampasan-perampasan lahan untuk pabrik gula hasil kolusi Gubermen dengan Pejabat Lokal pribumi turut mewarnai kolonialisasi. Gula pada masa itu adalah industri strategis Hindia sebagaimana industri minyak di Timur Tengah dan untuk melebarkan sayapnya penyimpangan sebagaimana disebutkan di atas terjadi. Petani kehilangan lahan-lahannya dan mereka terpaksa bekerja sebagai buruh gula dengan upah lebih rendah daripada jika bertani. Pergundikan, pelecehan-pelecehan sebagai bangsa kalah perang, ketidaksetaraan. Yang Eropa selalu di atas, bahkan warga pribumi sendiri ingin diakui sebagai warga Eropa. Nusantara memang menjadi berkembang tetapi seharusnya bisa lebih berkembang jika Belanda lebih bijak.
Akhirnya, untuk menutup artikel ini saya akan menyitir pernyataan Pram,
“Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat....Kau sudah lupa kiranya, nak. Yang kolonial selalu iblis. Tak ada kolonial yang mengindahkan kepentingan bangsamu” (Anak Semua Bangsa).
Dirgahayu Indonesia-ku yang ke 67!!
Diposting oleh
Sholehudin Adi Nugroho
di
21.32
0
komentar
Why Always (me) Pajak?”
Minggu, 15 April 2012
“Coba liat mas, gedung yang paling tinggi di ring road, kantor pemerintahan yang ada AC nya itu kantor apa? Yang parkirannya seperti showroom mobil itu, gedung apa?? Yang gaji pegawainya 10jutanan itu kantor apa?? Yang pegawainya “keceh” duit itu dari kantor mana?”
Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang wajib pajak ketika saya dan teman kerja melakukan penagihan pajak di rumahnya. Terdengar dengan manis di nada suaranya tapi bermakna sarkatis dalam tafsirannya. Saya menginsyafi betul, nama instansi tempat saya bernaung ini sedang diserang oleh cacian dan cobaan yang bertubi-tubi dari berbagai pihak...mulai dari kasus Gayus, DW maupun Ajib....Belum lagi “rasan-rasan” di belakang yang tidak mengenakan hati. Seburuk itukah Direktorat Jenderal Pajak ?
Perpajakan adalah bagian vital dari suatu negara lebih-lebih di Indonesia. Ketika sektor migas belum bisa dimaksimalkan, maka 70%-80% duit negara ini didapat dengan cara memungut uang dalam bentuk pajak. Uang ini akan didistribusikan dalam APBN pada masing-masing kementerian. Jadi, institusi pajak yang mengumpulkan adapun tanggung jawab penggunaannya ada pada masing-masing kementerian. Salah apabila ada yang bilang jalan rusak, jembatan roboh, PLN byar pet, sekolah ambruk karena uangnya dikorup oleh pegawai pajak....NO NO....masing-masing Kementerian-lah yang mengelolanya. Misal, kementerian Pekerjaan Umum (FYI mereka mendapat pembagian jatah uang apbn terbesar setelah Pertahanan)....merekalah yang bertanggung jawab membangun gedung-gedung, jembatan, infrastruktur. Pendidikann ada di kementerian pendidikan, dan sebagainya.
next gunjingan...”Uang pajak dikorup pegawainya?”
pertanyaan saya “Pernahkah bikin NPWP lantas menyampaikan laporan dan membayar pajak??”.
kalo belum (pantas tidak tahu :p), mohon cari satu saja kantor pajak yang uang pajaknya diterima oleh pegawainya...saya jamin tidak ada. Mekanisme pembayaran pajak adalah melalui surat setoran pajak (SSP) yang disetor sendiri ke bank persepsi (bank yang ditunjuk pemrintah) atau kantor pos. Gimana mau “diunthet” wong wajib pajak sendiri yang mbayar langsung ke negara.
Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang wajib pajak ketika saya dan teman kerja melakukan penagihan pajak di rumahnya. Terdengar dengan manis di nada suaranya tapi bermakna sarkatis dalam tafsirannya. Saya menginsyafi betul, nama instansi tempat saya bernaung ini sedang diserang oleh cacian dan cobaan yang bertubi-tubi dari berbagai pihak...mulai dari kasus Gayus, DW maupun Ajib....Belum lagi “rasan-rasan” di belakang yang tidak mengenakan hati. Seburuk itukah Direktorat Jenderal Pajak ?
Perpajakan adalah bagian vital dari suatu negara lebih-lebih di Indonesia. Ketika sektor migas belum bisa dimaksimalkan, maka 70%-80% duit negara ini didapat dengan cara memungut uang dalam bentuk pajak. Uang ini akan didistribusikan dalam APBN pada masing-masing kementerian. Jadi, institusi pajak yang mengumpulkan adapun tanggung jawab penggunaannya ada pada masing-masing kementerian. Salah apabila ada yang bilang jalan rusak, jembatan roboh, PLN byar pet, sekolah ambruk karena uangnya dikorup oleh pegawai pajak....NO NO....masing-masing Kementerian-lah yang mengelolanya. Misal, kementerian Pekerjaan Umum (FYI mereka mendapat pembagian jatah uang apbn terbesar setelah Pertahanan)....merekalah yang bertanggung jawab membangun gedung-gedung, jembatan, infrastruktur. Pendidikann ada di kementerian pendidikan, dan sebagainya.
next gunjingan...”Uang pajak dikorup pegawainya?”
pertanyaan saya “Pernahkah bikin NPWP lantas menyampaikan laporan dan membayar pajak??”.
kalo belum (pantas tidak tahu :p), mohon cari satu saja kantor pajak yang uang pajaknya diterima oleh pegawainya...saya jamin tidak ada. Mekanisme pembayaran pajak adalah melalui surat setoran pajak (SSP) yang disetor sendiri ke bank persepsi (bank yang ditunjuk pemrintah) atau kantor pos. Gimana mau “diunthet” wong wajib pajak sendiri yang mbayar langsung ke negara.
Oia, satu lagi. Misal dah bikin NPWP...coba deh keluarkan kartu2 dari dompet, lantas ingat-ingat mana yang bikinnya paling cepet...mana yang bikinnya tanpa biaya alias gretongan....mana yang bikinnya gak pake syarat ribet nyiapin ini itu :D.
Pajak (DJP) itu juga punya prestasi jugak lah. Gak nista selamanya. Dari sisi pelayanan administrasi, menduduki peringkat ke-2 setelah KPPN (perbendaharaan). Orang yang pernah bikin NPWP pasti paham maksudnya , gak sampai setengah jam dah kelar. KPK juga bikin survey integritas pada instansi-instansi pemerintah. Hasilnya, pajak dinilai 7,65 dari nilai maksimal 10. Jauh di atas standar KPK yaitu 6.0. Untuk kode etik dinilai 9, 73 (dari skala 10) dan untuk promosi anti korupsi 9, 82 (dari skala 10). Untuk pelayanan, survey dilakukan oleh IPB dengan hasil 3, 79 (dari skala 4).....liat di portal DJP atau okezone.com coba.
Lah...baik-baik mulu...itu liat di TV..Gayus...Ajib....Dhana....? itu konkret bahwa pegawai pajak itu nakal nakal kan??
Gayus emang nakal bro. Semua pegawai pajak juga mengakuinya. Maen-maen di keberatan seenak udelnya sendiri. Rekening gendut Dhana? Belum terbukti. Jadi mesti ada asas presumption of innocence (praduga tak bersalah), Ajib gimana? Ajib itu rekeningnya gendut karena dia nampung Gaji rapelan seluruh lulusan stan yang baru digaji setelah magang beberapa lama. Jadi nominalnya besarr banget
Lah...baik-baik mulu...itu liat di TV..Gayus...Ajib....Dhana....? itu konkret bahwa pegawai pajak itu nakal nakal kan??
Gayus emang nakal bro. Semua pegawai pajak juga mengakuinya. Maen-maen di keberatan seenak udelnya sendiri. Rekening gendut Dhana? Belum terbukti. Jadi mesti ada asas presumption of innocence (praduga tak bersalah), Ajib gimana? Ajib itu rekeningnya gendut karena dia nampung Gaji rapelan seluruh lulusan stan yang baru digaji setelah magang beberapa lama. Jadi nominalnya besarr banget
Oia, ngomong-ngomong tentang rekening gendut, yang punya itu bukan hanya pegawai pajak saja lo. Di Polri atau tentara.....atau pejabat2 di kementerian lain juga banyak. Jadi mengutip kata-katanya Balloteli “why always
Diposting oleh
Sholehudin Adi Nugroho
di
01.12
2
komentar
Karena Pria Takkan Menangis
Andai kau bukan segalanya bagiku
Andai kau tak sebaik yang aku kira
Andai ku tak pernah luput melupakanmu
Andai ku tak pernah utk membutuhkanmu
Bukan ku lebih mementingkan egoku
Tapi sudah kodratku harus memimpinmu
Aku hanya mencoba mengerti kamu
Bukan seperti apa yang kamu coba pikir padaku
Ku harus bagaimana agar engkau percaya
Karena pria tak mungkin menangis dihadapmu
Aku akan mencoba apa yang engkau pinta
Namun pria tak mungkin menangis dihadapmu
Aku bagai pilar-pilar tak beratap
Aku hanya manusia yang biasa
Aku hanya mencoba mengerti kamu
Bukan seperti apa yang kau coba pikir padaku
Sadarilah pria ini takkan mungkin menangis dihadapmu
Oh sanggupkah aku berjalan tanpa kakimu
(Soultan)
Diposting oleh
Sholehudin Adi Nugroho
di
15.58
5
komentar
Sulap Kalkulator
Iseng-iseng main ke gramed dan baca gratis kesana-kemari. eh, nemu artikel tentang sulap yang simple tapi menarik. yang anda butuhkan hanya kalkulaor dan tentu saja, ehm, orang yang mau anda kadalin.
- suruh dia memasukan 4 digit angka dalam kalkulator di hp-nya lantas,
- suruh ia kurangkan angka tadi dengan kebalikannya, misal 4321-1234=3087. sangat penting untuk hasilnya POSITIF. Jika negatif, suruh ia mengulanginya dengan membalik pengurangan.
- dari angka hasil pengurangan tersebut yaitu 3087 maka kita minta satu angka di simpan dalam hati oleh dia dan minta disebutkan sisa 3 angka tersebut kepada kita. misal ia menyimpan dalam hatinya angka 7, maka dia akan menyebutkan angka 0,8, dan 7.
disinilah kita mulai bermain,
- jumlahkan tiga angka terakhir tadi 0+8+7=15
- Setelah kita jumlahkan maka hasil tersebut harus dikurangi dengan hasil perkalian 9 yang hasilnya jauh lebih besar namun mendekati dengan hasil penjumlahan tadi. Hasil perkalian 9 yang jauh lebih besar namun mendekati dengan angka hasil penjumlahan (15) adalah 9 x 2 = 18.
- dan langkah akhirnya, 18-15= 3
saya berikan satu contoh lagi, misalkan dari 3087, yang disembunyikan adalah 7. Kemudian, 3+0+8=11 dan kelipatan 9 yang terbesar adalah 18. hasil akhirnya 18-11=7 bukan?
Jadi selagi dia terheran-heran karena anda bisa membaca hatinya (#eaaa), anda bisa terkikik-kikik dalam hati Xp
oia, ada exception dalam trik ini yaitu
- Jika hasil penjumlahan hasilnya sama dengan 9 maka sudah pasti angka yang disimpan adalah angka 9.
- Jika hasil penjumlahan hasilnya sama dengan 18 maka sudah pasti angka yng disimpan adalah angka 0.
- Hanya ada dua angka dari perkalian 9 yang dijadikan faktor pengurang yaitu 9 x 1 = 9 dan 9 x 2 = 18. Tidak menggunakan 9 x 3 = 27 ataupun seterusnya.
Oke, saatnya anda turun gunung dan bereksperimen:D
Diposting oleh
Sholehudin Adi Nugroho
di
15.40
2
komentar
AKU
Rabu, 30 November 2011
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Chairil Anwar
Maret 1943
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Chairil Anwar
Maret 1943
Diposting oleh
Sholehudin Adi Nugroho
di
05.00
0
komentar
Dibalik Krisis Ekonomi Indonesia 1997-1998
Sejarah ada untuk memberikan ceritanya kepada kita tentang suatu hal di masa lampau. Namun, tidak sampai situ saja. Ia memberikan pula pelajaran agar kita menapaki masa depan yang lebih baik dengan cara berkaca kepadanya. Berbicara mengenai sejarah dan dihubungkan dengan masalah ekonomi, bidang mata kuliah saya, saya serta merta teringat krisis ekonomi di Indonesia 1997-1998. Keadaan yang tidak disangka-sangka mengingat begitu lepas landasnya perekonomian negara kala itu dan kokohnya fundamental perekonomian Indonesia. Pernyataan ini didukung pula oleh penelitian Furman dan Stiglitz (1998) bahwa dari 34 sample yang mereka ambil, Indonesia merupakan negara terunik, dalam artian seharusnya Indonesia mempunyai tameng yang memadai untuk menanggulangi efek kejut akibat kejatuhan ekonomi Thailand kala itu. Dibanding Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 miliar dolar, dan sektor bank yang baik. Ada apakah gerangan?
Sebab sebenar-benarnya dari kejatuhan ekonomi Indonesia kala itu tidaklah jelas. Apakah hal yang menyebabkan kuatnya nilai rupiah di 2500 mendadak menjadi 10.000 sebenarnya tetap simpang siur. Saya mencoba menguraikan beberapa kemungkinan yang saya dapatkan dan dengar dari berbagai pihak. Yang paling awal saya ungkapkan, karena paling menarik, adalah kemungkinan adanya konspirasi dari negara adidaya Amerika. Amerika menganggap perekonomian Asia terlalu kuat dan dapat menjadi batu sandungan bagi Amerika itu sendiri sehingga harus “dilemahkan”. Bagaimana caranya?. Apakah anda mengenal George Soros sang spekulan Yahudi Amerika? Aksinya adalah memborong dollar di pasaran, yang anehnya terjadi justru ketika Indonesia banyak membutuhkan dollar karena ketika itu tepat jatuh tempo pembayaran hutang-hutangnya. Kita tahu perekonomian Indonesia saat itu, masa mafia Barkeley, adalah perekonomian berlandaskan hutang. Hutang yang sangat besar bahkan sampai saat ini belum bisa terbayar lunas dan agar dapat terbayar lunas masing-masing kepala bangsa ini harus membayar kurang lebih dua juta rupiah . Menjelang Desember 1997 jumlah hutang yang harus dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun adalah sebesar US$20,7 milyar (World Bank 1998).Pertanyaan yang terbersit adalah darimana George mengetahui jatuh tempo utang pemerintah? Kongkalikong dengan pihak intern atau konspirasinya dengan Amerika? Anda pasti mengenal hukum law and demand, ketika barang langka padahal permintaan tinggi otomatis harganya tinggi. Dollar langka, dan permintaan akan dollar tinggi maka harga (nilai) dollar naik sedemikian rupa. Imbasnya nilai rupiah turun dengan bebasnya, Inflasi tak terelakkan dan rakyat mulai tercekik oleh luar biasanya harga-harga.
Sebab selanjutnya masih berkaitan dengan hutang, tetapi hutang yang dilakukan oleh pihak swasta. Indonesia kala itu adalah negara dengan inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdagangan terbuka. Dengan kondisi demikian, kreditur asing memiliki preferensi lebih dalam meminjamkan uangnya kepada swasta di Indonesia. Data dari world bank, antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta. Yang jadi persoalan adalah hutang tersebut tidak digunakan dalam sektor-sektor yang produktif, seperti pertanian atau industri, tetapi justru masuk ke pembiayaan konsumsi, pasar modal, dan khusus bagi Indonesia dan Thailand, ke sektor perumahan (real estate). Akibat derasnya modal yang masuk terjadi apresiasi mata uang dan kinerja ekspor yang selama ini menjadi andalan ekonomi nasional justru mengalami perlambatan.
Sebab selanjutnya adalah tidak sehatnya praktik perbankan saat itu. Ketika liberalisasi sistem perbankan diberlakukan pada pertengahan tahun 1980-an, mekanisme pengendalian dan
pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak mampu mengikuti cepatnya pertumbuhan sektor perbankan. Yang lebih parah, hampir tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri yang mestinya hanya sebatas 5%, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan kemudian syarat kelayakan kredit yang dilanggar begitu saja akibat debitur merupakan afiliasi, anak perusahaan atau milik kawan bos. Hal ini mencuat dalam kasus BLBI (bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang nilainya mencapai separuh cadangan devisa dan digunakan untuk menolong bankir bermasalah. Kenapa pemerintah senekat itu menggelontorkan dana yang amat besar itu, tak lain tak bukan karena pemerintah yakin nilai asset, yang berfungsi sebagai agunan, yang dilikuidasi melebihi anggaran yang telah dikeluaran pemerintah. Faktanya sampai tahun 2003 pemulihan tariff (recovery rate) dari asset-asset bank yang dijadikan agunan hanya mencapai 23%. Ini tak lain karena penyimpangan syarat-syarat kelayakan kredit tadi.
pengawasan dari pemerintah tidak efektif dan tidak mampu mengikuti cepatnya pertumbuhan sektor perbankan. Yang lebih parah, hampir tidak ada penegakan hukum terhadap bank-bank yang melanggar ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri yang mestinya hanya sebatas 5%, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan kemudian syarat kelayakan kredit yang dilanggar begitu saja akibat debitur merupakan afiliasi, anak perusahaan atau milik kawan bos. Hal ini mencuat dalam kasus BLBI (bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang nilainya mencapai separuh cadangan devisa dan digunakan untuk menolong bankir bermasalah. Kenapa pemerintah senekat itu menggelontorkan dana yang amat besar itu, tak lain tak bukan karena pemerintah yakin nilai asset, yang berfungsi sebagai agunan, yang dilikuidasi melebihi anggaran yang telah dikeluaran pemerintah. Faktanya sampai tahun 2003 pemulihan tariff (recovery rate) dari asset-asset bank yang dijadikan agunan hanya mencapai 23%. Ini tak lain karena penyimpangan syarat-syarat kelayakan kredit tadi.
Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank yang sesunguhnya tidak bermodal cukup (undercapitalized) atau kekurangan modal, tetapi tetap dibiarkan beroperasi. Semua ini berarti, ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai “peredam kerusakan”, tetapi justru menjadi korban langsung akibat neracanya yang tidak sehat.
Dugaan sebab selanjutnya adalah konspirasi yang dilakukan IMF dan sektor swasta. Sektor swasta sebagaimana dijelaskan pada paragraf di atas, dimana mereka yang berhutang, mereka menjalankannya bukan pada sektor produktif, tetapi ketika krisis yang harus menanggung hutang-hutang mereka adalah pemerintah. Praktik ini bisa ditelusuri dalam isian Frankfurt Agreement, dimana IMF akan memberikan hutang jika sebagian hutang tersebut digunakan untuk membayar kredit macet sektor swasta pada kreditur asing. Jadi masuk kantong kanan berupa duit dari IMF dan keluar dari kantong kiri berupa pelunasan hutang swasta. Kalau bang haji Rhoma bilangnya “gali lubang tutup lubang”. Celakanya, kebanyakan bisnis swasta tersebut adalah kroni-kroni dari penguasa.
Praktik Frankfurt Agreement ini, senantiasa dibujukan kreditur asing kepada IMF agar Indonesia mau melakukannya dan bisa dikatakan sebab yang memperparah krisis.
Terakhir yang ingin saya ungkapkan, krisis ini terjadi karena adanya moral hazard. Kenapa syarat kredit diperlunak? Karena mereka anggota kroni, anak perusahaan atau istilah sejenisnya. Ini moral hazard. Kenapa ada penggelembungan nilai asset yang digunakan sebagai agunan? Ini moral hazard. Kenapa ketidaktransparanan menjadi sifat bangsa ini? Kenapa ada istilah kroni, dan ini tidak pada tingkat terkecil, bahkan sampai tingkatan pemerintahan tertinggi negara ini. Ini moral Hazard. Ketika stabilitas politik-sosial Indonesia memanas di tahun 1997-1998 terkuaklah berbagai macam borok perkronian ini.
Praktik Frankfurt Agreement ini, senantiasa dibujukan kreditur asing kepada IMF agar Indonesia mau melakukannya dan bisa dikatakan sebab yang memperparah krisis.
Terakhir yang ingin saya ungkapkan, krisis ini terjadi karena adanya moral hazard. Kenapa syarat kredit diperlunak? Karena mereka anggota kroni, anak perusahaan atau istilah sejenisnya. Ini moral hazard. Kenapa ada penggelembungan nilai asset yang digunakan sebagai agunan? Ini moral hazard. Kenapa ketidaktransparanan menjadi sifat bangsa ini? Kenapa ada istilah kroni, dan ini tidak pada tingkat terkecil, bahkan sampai tingkatan pemerintahan tertinggi negara ini. Ini moral Hazard. Ketika stabilitas politik-sosial Indonesia memanas di tahun 1997-1998 terkuaklah berbagai macam borok perkronian ini.
Akhirnya ketika sampai pada penghujung penulisan ini saya sadar bahwa krisis 1997-1998 memberikan bagi saya begitu banyak pelajaran berharga akan pentingnya menjadi bangsa yang LEBIH BAIK, bangsa yang memiliki KEMANDIRIAN, dan bangsa yang BERMORAL. Semoga saja, Indonesia bisa!
sumber:
Salvatore, Ekonomi Internasional
Sadono Sukirno, Makroekonomi,
Kuliah Ekonomi Internasional saya
Afred Suci, 151 Konspirasi Dunia
sumber:
Salvatore, Ekonomi Internasional
Sadono Sukirno, Makroekonomi,
Kuliah Ekonomi Internasional saya
Afred Suci, 151 Konspirasi Dunia
Diposting oleh
Sholehudin Adi Nugroho
di
04.37
1 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)






